Desember 7, 2022

YouTube memblokir akses di seluruh dunia ke channel yang didanai pemerintah Rusia. Langkah ini mengikuti kebijakan yang melarang konten yang menyangkal, meminimalkan, atau meremehkan peristiwa kekerasan yang terdokumentasi dengan baik. Dilansir , layanan video streaming yang paling banyak digunakan di dunia mengatakan invasi Rusia ke Ukraina sekarang berada di bawah kebijakan peristiwa kekerasan dan materi yang melanggar akan dihapus.

Juru bicara YouTube Farshad Shadloo mengatakan pemblokiran outlet Rusia sejalan dengan kebijakan itu. Lebih jauh, selama invasi Rusia ke Ukraina, banyak warga mengungsi ke berbagai negara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensku mengatakan sebanyak 7.144 orang dievakuasi dari empat kota Ukraina pada Jumat (11/3/2022).

Jumlah ini jauh lebih rendah dari dua hari sebelumnya. Zelenskyy menuduh Rusia menolak mengizinkan orang orang keluar dari kota Mariupol yang terkepung. Dia meyakinkan warganya bahwa pemerinta akan mencoba lagi mengirimkan makanan dan obat obatan ke sana pada Sabtu (12/3/2022).

Dana Anak anak Perserikatan Bangsa Bangsa (UNICEF) mengatakan lebih dari 1 juta anak meninggalkan Ukraina bersama dengan keluarga mereka untuk mencari perlindungan. "Jumlah anak anak yang mengungsi sangat mengejutkan, sebuah indikasi betapa putus asanya situasi anak anak dan keluarga di Ukraina. Anak anak meninggalkan semua yang mereka ketahui untuk mencari keselamatan, ini memilukan," kata Direktur Regional UNICEF untuk Eropa dan Asia Tengah, Afshan Khan. Dikutip , Jumat (11/3/2022), dalam kata katanya, tim UNICEF akan mengirimkan pasokan medis ke 22 rumah sakit di 5 daerah yang terkena dampak konflik di Ukraina untuk memberikan bantuan bagi 20.000 anak dan ibu.

Sedikitnya enam truk yang memuat sekitar 70 ton perbekalan pun telah tiba di Ukraina. Bantuan yang dibawa termasuk di antaranya peralatan perlindungan pribadi, peralatan medis, bedah dan kebidanan. Pasokan tambahan kini juga sedang dalam perjalanan dari Denmark dan Turki, diperkirakan akan tiba dalam beberapa hari mendatang.

Sebelumnya pada 24 Februari lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin memulai invasi skala penuhnya ke Ukraina dan memulai perang di negara itu. Pasukan Rusia kemudian menembaki dan menghancurkan fasilitas infrastruktur utama, meluncurkan serangan rudal ke rumah rumah penduduk di Ukraina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *